Feeds:
Posts
Comments

* Hikayat Angin Petang

Assalamu’alaikum Warrahmatullahiwabarakaatuh,

Sidang Jumat yang berbahagia, blog ini merupakan kumpulan tulisan saudara Angin Petang, serta tulisan dari sanak famili Angin Petang yang lain. Angin Petang adalah seniman dan penulis internet yang sama sekali gagal terkenal dan sekarang menjalani hidup dengan bahagia bersama ayam dan tupai di kampung halamannya tercinta, di agak ke pinggir pantai Sumatera Barat, tapi taklah begitu terlalu pinggir amat.

Angin Petang adalah seorang lelaki kafir yang cukup religius dan rajin membaca syahadat sebelum mencuci tangan. Berambut gondrong dan berkumis tipis serta bersendal jepit, aroma nafasnya segar dan wangi. Dengan kaos oblong putih bergambarkan Ibu Mega lagi mencukur bulu ketek, Angin Petang kadang mencoba tampil romantis dengan tulisan saudara dan sanak familinya itu, kadang berhasil kadang kagak, namanya mencoba. Juga, dengan kebiasaan memandang tai bergelung dan burung murung menggantung di kakus umum, dia mencoba kritis dan satiris, lagi-lagi kadang berhasil kadang tidak. Pula, dia mencoba tampil humanis dengan senyuman khas ala Jenderal WR Supratman, walau kadang malah seperti bajingan menjijikkan, laksana tupai mensodomi bangkai cicak di septic tank Rumah Sakit Khusus Diare Ibukota, menjijikkan sekali. Sesekali dia mencoba tampil jenaka, tapi kadangkala nampak garing, dan memalukan ayah ibunya yang telah berpulang ke rahmatullah, inna lillahi wainnailaihi rojiun….

Walau kadang tulisannya mengharukan, Angin Petang tetap lebih banyak memiliki musuh daripada singlet. Angin Petang memang sering pura-pura tidak peduli apakah tulisannya bakal menghasilkan banyak sahabat atau sendal jepit. Angin Petang terus terang menjengkelkan dengan ketampanan dan pesonanya itu. Inilah yang mendorong Ibu Mega untuk mencukur bulu ketek warga NU.

Namun, diantara banyak musuh dan kekasih dia punya sahabat dan penggemar sejati. Penggemar baikhatinya telah berbaik hati untuk tidak jahat, dan memodalinya berdagang ikat pinggang dan kacamata reben di terminal Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jaya, Republik Indonesia Raya, 12902. Sayang sungguh disayang, Angin Petang tidak betah, karena di Blok M banyak yang kentut sembarangan tanpa memikirkan efek sampingnya bagi ramalan cuaca. Akhirnya, Angin Petang kabur membawa modal tersebut, berikut 3 lusin ikat pinggang khusus buat wanita berjilbab, ke kampungnya. Dengan modal jilbab mini tersebutlah, Angin Petang sekarang beternak ayam dan tupai di kampung halamannya yang indah tiada tara.

Angin Petang tidak menerima himbauan, juga tidak menerima kritikan dan masukan serta cobaan derita. Tapi dia menerima sumbangan dan sedekah, maklum bisnis ternak ayam sungguhlah amat berat disaat ini. Dan hanya sedekah jariyah lah amal di dunia yang bisa dibawa ke alam baqa.

Cheese,
Angin Petang.
anginpetang@telkom.net

* Ketika Jusfiq Mati

Jusfiq semakin tua, Jusfiq semakin bangka dan renta. Pada akhirnya dia akan mati juga, si Jusfiq ini.

Ketika Jusfiq mati, kelak, saya akan khawatir mengenai nasib dan prospek persyiaran kekafiran di tanah minangkabau.

Jusfiq adalah fenomenal, kekafiran dan kemanusiawiannya luar biasa, meski terbungkus dalam kata-kata berbau kakus, dan kekerasan kepalanya yang mendekati ibu mertua daripada selingkuhan mantan pacar saya.

Tak dapat dipungkiri pula, Jusfiq adalah lelaki renta yang berlari kencang dan berteriak keras, pembawa suluh kekafiran menerangi dunia gelap islamiyah jahiliyah minangkabau nan beradat bersyandi syarak, syarak bersandi kitabullah tersebut.

Jusfiq memang buruk rupa, tapi dia manusiawi. Jusfiq memang kareh kapalo, kareh angok, tapi dia logis – most of the time. Jusfiq memang babaun muncuangnyo, bau multunya, tapi dia berniat baik, nampaknya. Jusfiq memang ketombean, tapi dia kafir.

Banyak yang meragukan keefektifan Jusfiq dalam mensyiarkan kekafiran ke ranah minang. Some argue kalau cara dan metodologinya malah kontra produktif. Ketika kaum jahiliyah islamiyah (ie. sub sekte muslim yang menolak menggunakan akal sehat dan hati nurani) merasa sakit hati, dan makin berpegang erat dan kian keukueh memegang kejahiliyannya. Ketika orang muntah melihat baris-baris pertama kalimatnya, dan mengabaikan syair-syair dakwah Jusfiq. Ketika orang-orang beramai-ramai menutup mata, memakok hidung dan membekap telinga ketika Jusfiq nongol dan bersuara, karena mulutnya bau, suaranya memekakkan dan menyakitkan, dan rupanya buruk menakutkan.

Mungkin mereka benar, Jusfiq nggak efektif dalam dakwah dan syiarnya. Walau Jusfiq nampaknya hanya ingin konsisten dalam menauladani salah satu sifat Nabi Muhammad, yaitu Tabligh, alias menyampaikan, menyampaikan kebenaran, walau itu pahit atau bau kencing kuda.

Banyak yang mengira, Jusfiq tidak ikhlas dalam mendakwahkan kekafiran. Mungkin karena dia sudah tidak laku lagi di ladang HAM, kata seseorang. Mungkin karena lepau nasinya sudah tidak laku lagi. Mungkin karena tititnya sudah susah ngaceng, dan lain-lain sebagainya.

Tetapi, kenekatan Jusfiq setidaknya memberikan inspirasi atas para kaum kafirun al minangkabau lainnya, yang banyak terbenam ketakutan dalam dominasi para kaum jahiliyah islamiyah. Kenekatan Jusfiq berdiri di barisan depan dengan rambut hitam tergerainya, yang dihiasi uban dan ketombe di sini sana, telah membuat beberapa kaum minang kafirun sedikit berani ikut berdiri, walau kadang jauh di belakang.

Namun, Jusfiq sudah tua. Dia semakin renta. Dia semakin bangka. Pada akhirnya dia akan mati juga, si Jusfiq ini.

Ketika Jusfiq mati, saya khawatir sekali. Siapakah gerangan yang meneruskan dakwah-dakwah nya. Tidak seperti Jesus yang punya murid seabreg-abreg, Jusfiq belum berhasil merekrut murid satupun – sepertinya. Unlike Nabi Muhammad SAW yang berhasil mengkader para sahabat dan panglima perangnya, Jusfiq tidak punya hasrat untuk bersahabat ria, invitation saya di Facebook di reject terus.

Sungguh saya khawatir dengan nasib persyiaran kekafiran di tanah Minang tercinta, ketika Jusfiq mati terjilapak terjengkang.

Memang ada Edizal. Namun, Edizal nyalinya tidak sebaja Jusfiq, nyalinya cuman se-sabut kelapa, ie. kalau tidak dijalin banyak, gampang putus. Yang kedua, Edizal juga tidak fokus, banyak maunya. Mau mengadopsi anaklah, mau bikin sekolah lah, mau ngajar bahasa Jepang lah, mau nulis buku petunjuk ngeseks tanpa harus punya anaklah. Edizal nggak fokus, dan gundul palanya.

Memang ada Panggugek. Namun, Panggugek ini susah diharapkan, dia sangat tergantung dengan Edizal, seperti kerbau dicucuk hidungnya saja, dicucuk tali sabutnya Edizal

Memang ada uwan JD. Meski diantara barisan Minang Kafirun dia yang sekolahnya paling tinggi, walau hampir DO though, karena keseringan nyimeng. Namun uwan JD ini angin-anginan, angek-angek cirik ayam, anget-anget tai ayam. Pula, uwan Dachtar ini masih sibuk dengan obsesi penulisan bukunya itu: “Peranan Konstruksi Rangka Beton Dalam Menghindari Perkawinan: Sebuah Studi Kasus Kementerian PU”, yang saat ini pun baru memasuki bab ke 2: Konsep Perkawinan Tanpa Beton Tulang. Tak taulah saya, bagaimana konsep perkawinan tanpa beton tulang ini, apa maksudnya kawin cukup bertepuk tangan saja? Jadi, saya meragukan komitmen daripada uwan JD terhormat ini

Memang ada Hasan Basri alias Habe. Habe ini nampaknya memang rajin dan tekun. Namun karena latar belakang pendidikan yang rendah, drop out SMEA Budi Asih, Cipulir, omongannya suka ngawur. Ngomongin cara beli pizza murah daur ulanglah, ngomongin jalan-jalan ke Arab tanpa harus naik onta lah, ngomongin tetangga yang suka isep jempol lah, juga suka menyesali tititnya yang nggak sebesar jempol tangan tetangganya itu. Malu-maluin, indak bisa dibaok katangah. Pula, Habe lebih senang manggung di orkes dangdut atau orgen tunggal di tengah sorak-sorai tukang ojek, daripada berkotbah di tengah umat. Sangat disayangkan.

Memang ada Urpas. Tapi urpas punya problem mendasar, munafik. Not to mention nyalinya juga pas-pasan. Beberapa kali Urpas kepergok melakukan hal-hal yang kurang pantas. Tidak hanya suka berpacar-pacaran, dia juga pernah kepergok ikut gotong royong bangun musholla pas pulang kampung dua tahun lalu. Dia juga pernah ketauan ikut-ikutan sholat waktu pamannya datang berkunjung, jadi imam malah.Walau selain alfatihah plus ayat pendek qulhuwallahuahad dan wal’asri di dua rakaat pertama, sisanya si urpas cuman komat-kamit nyanyiin lagu-lagu ismail marzuki dan c simanjutak pelan-pelan. Pernah juga dia kepergok lagi mengaji, sambil main gitar. Urpas susah diharapkan juga nampaknya, belum lagi sejak berkapitalis ria dia nampak sombong sekali gaya hidupnya.

Memang ada Wady. Wady termasuk yang gagah berani menjadi kafir. Paling memahami kultur dan budaya minang, dia bisa menjadi another Snouck Hurgronje dalam memberadabkan kaum islamiyah jahiliyah. Dia pintar berdendang, berkabar, bersaluang seruling. Sayangnya, Wady ini ini kebablasan berkesenian, sering lupa makan, mandi, dan coli.. Terutama, sejak ditinggal pergi sang bini, hidup Wady makin tak berketentuan, meski dia mengaku semakin bahagia dalam ketidakberagamaan dan ketidakberbinian. Namun, menjadi another Jusfiq, tidak berbau telunjuk saya.

Ada juga Sehhann misalnya. Namun Sehhann ini rada error dan senang bermistik-mistik. Dia juga susah menghandle halusinasinya. Selamat dari Jesus dan Muhammad, Sehhann sekarang berasyik masyuk dengan tuhan UFOnya, walau tidak satu gereja dengan scientologist John Travolta. Sebenarnya Sehhann memiliki prospek yang baik, asal dia jangan lupa minum obat, dan mengurangi bermain jimat.

Ada beberapa generasi muda Minang penuh harapan yang nampaknya bisa menggantikan Jusfiq kelak, namun hingga saat ini saya belum melihat those dengan kekeras kepalaan, kebau mulutan, keketombean, dan kesemangatan Jusfiq.

Jadi, sangat beralasan, jika kelak Jusfiq mati, saya khawatir dakwah dan syiar kafirisasi, khususnya di Ranah Minang, mati pula. Wallahualam.

————————————–

http://anginpetang.wordpress.com

Satu dari sekian hal yang menyedihkan dalam perjalanan hidup saya adalah ketika Amien Rais ikut memonyong-monyongkan mulutnya, sperti ibunya Manohara, ngomongin neo-lib dan ekonomi kerakyatan.

Walau kafir, saya adalah Muhammadiyah dari ujung ketombe sampai ujung titit. Saya menjadi Muhammadiyah seperti saya menjadi Minangkabau. Jadi, saya orangnya Amien Rais. Biar Padang, dari sisi watak saya senang betul orang Jawa satu ini; de-e berani, ceplas-ceplos, cerdas, kocak, inspiratif, kritis, dinamis, dan tak berkumis. Dan bagi saya, angku Amien Rais adalah orang yang paling berjasa, dari sekian banyak yang berjasa, dalam menamatkan lakon Haji Muhammad Suharto sebagai bintang utama TVRI. Mungkin ini sedikit terlalu romantis bagi generasi saya yang benar-benar menikmati berjuang mendongkel Jenderal bertampang ramah dan penuh senyum menyenangkan ini. (PS. O, I miss you kang Harto…)

Namun, walau cerdas, Amien Rais nggak selamanya pintar. Dalam satu hal ini, jelas Amien Rais pandir dalam mata saya. Satu lagi, Amien Rais kadang juga salah gaul. Dia lebih ngedengerin para cecunguknya yang sontoloyo itu daripada ngedengerin saya yang, alhamdulillah berkat allah maha kuasa, lebih cerdas ini. Ini kesalahan fatal, walau si fatal tak sepantasnya dipersalahken.

Tapi menjadi tua lahir dan bathin, plus post-power syndrome to some extent, adalah another factor yang mendorong Amien Rais makin kurang cerdas dan wicaksono djojonegoro. Tanpa kesadaran dan usaha yang sungguh-sungguh, Amien Rais bisa jadi ntar cuman sepintar Tukul, SBY, atau Liem Swie King. Lama-lama, bukan tak mungkin dia cuman sepintar Wiranto, sepintar almarhum bapak saya, atau Goh Chok Tong. Bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya dia cuman sepintar Komar, Megawati, Dhani Dewa, Manohara, atau Hamzah Haz. Wallahualam bissawab…

Walau bagaimanapun, Amien Rais adalah salah satu cinta indah yang pernah mekar bersemi di sanubariku ini, selain Arswendo, Ardi BW, Jojon dan Ismail Marzuki. Beda usia, 16 vs 61, tidak menghilangi gejolak cinta merah membara ini. Beda kepercayaan, kafir vs Islam, juga bukan kendala. Kecintaan saya pada rendang padang dan kebencian saya pada baju batik orang jawa bukanlah penghalang kecintaan saya pada de-e.

Dan, cintaku tak pernah mati, kalau angku Amien Rais nyalonin jadi presiden, Indonesia atau Yogyakarta, saya akan lupakan SBY, Jaclyn or Budi Anduk.

Pesan terakhir saya kepada Amien Rais, kurang-kurangilah nyerocos dengan orang ramai, perluas pergaulan, dan jangan lupa minum vitamin B complex sebelum bobok. Dan, percayalah Boediono itu kayaknya orang baik dan pintar, walau nggak secerdas dan seindah Amien Rais ku.

Peluk, Cium, dan Sayang,

Angin Petang.

Para ‘nasionalis’ sontoloyo katanya ogah dengan kebijakan yang pro asing yang di bawa oleh so-called neo-liberal group. Kebijakan ekonomi katanya harus berbasis kerakyatan, dengan memberi prioritas pada pelaku ekonomi dalam negeri khususnya keterlibatan negara demi kepentingan orang banyak.

Sebetulnya, saya tidak mengerti betul apa yang dimaksudkan oleh para begundal ini dengan neoliberal, kenapa tidak liberal saja. Gelinya ada yang mengaitkan kebijakan neoliberal ini dengan kegagalan ekonomi AS. Jarene, katanya, krisis ekonomi AS adalah karena kebijakan neo liberal dari pemerintahan Bush. Bush mungkin bingung kalau dia dikaitkan dengan kelompok liberal yang jelas musuh bebuyutannya.

Sebuah tulisan semrawutan di sebuah blog-blogan mengkritisi kebijakan para ekonom Jenderal Suharto alias Mafia Berkeley, dan membandingkan dengan kebijakan ekonomi Insinyur Sukarno. Tanpa menyadari – politics aside — kebijakan para ekonom di bawah jenderal Suharto adalah yang tersukses dalam sejarah Indonesia, bahkan dengan impact Krismon 97 sekalipun. Dan tentu semua tahu, kebijakan ekonomi terpimpin Sukarno adalah yang paling amburadul.

Lalu, banyak yang membandingkan kemajuan negara-negara seperti Korea, Taiwan, Malaysia, China, dll. Tanpa menyadarinya melejitnya perekonomian di negara ini karena mereka beralih pada sistem ekonomi pasar. Quick turnaround ekonomi RRC jelas karena dia beralih dari sistem ekonomi terpusat dan terencana (kerabatnya ‘ekonomi kerakyatan’) pada ekonomi pasar. Relatif mandengnya perekonomian Malaysia satu dekade terakhir karena mereka menjadi kurang bersahabat terhadap pasar dan pemodal asing.

Kemudian, ada juga yang memuji kebijakan nasionalistik di negara-negara Latin America, tanpa menyadari stagnantnya ekonomi negara-negara Amerika Latin dalam beberapa dekade terakhir termasuk karena kebijakan nasionalisis-populis yang crap itu. Tanpa menyadari melejitnya perekonomian Chile — dan Brazil beberapa tahun belakangan, di tengah semrawutnya pereknomian negara-negara Amerika Latin, karena mereka mengadopsi kebijakan ekonomi yang beriorentasi pasar dan friendly terhadap entrepenur, asing mau pun lokal.

Tentu, sebagian besar sontoloyo yang ngomongin ekonomi kerakyatan ini, nggak bener-bener ngeh apa yang diomonginnya. Namun, pekan lalu saya ke Jakarta menjemput barang dagangan. Saya bertemu beberapa-beberapa kawan lama yang secara politis rata-rata adalah pendukung PKS atau paling nggak PAN. Jelas, mereka khawatir mengenai kebijakan ekonomi berorientasi pasar, or liberal or neo- liberal, terserah kau lah apa namanya, yang katanya akan menguntungkan pemodal asing dan menderitakan bangsa sendiri.

Satu persatu mereka saya tanya dalam sebuah perbincangan, apakah mereka lebih senang bekerja di perusahaan asing atau perusahaan lokal yang dimiliki asing seperti IBM, Nokia, Standard Chartered Bank, Exxon, Singapore Airlines, dll. Atau di perusahaan yang dikelola bangsa sendiri seperti BRI, Garuda, Lion Air, PTPN XII, Angkasa Pura, PLN, dll. Rata-rata dengan senang hati mengatakan prefer kerja di perusahaan asing. Kenapa? Gajinya lebih besar, belajar sistem yang lebih advanced, iklimnya lebih bagus, kesempatan training dan traveling ke luar negeri.

Lalu, waktu saya tanya apakah mereka, sebagai customer, lebih senang berurusan dengan perusahaan-perusahaan asing tersebut atau perusahaan lokal khususnya yang dikelola oleh rakyat alias negara or BUMN. Rata-rata menjawab lebih senang berurusan dengan perusahaan asing, prefer Singapore Airlines vs Garuda, prefer Citibank vs BNI, dll. Karena pelayanan yang lebih baik, sistem yang akurat, dan stafnya cantik-cantik dan wangi.

Juga, kalau saya minta mereka berandai-andai sebagai shareholder, pemilik pemegang saham, mereka lebih senang memiliki perusahaan-perusahaan asing atau lokal dan BUMN. Hampir semuanya bilang lebih senang dengan perusahaan asing karena rata-rata lebih efisien, jadi lebih menguntungkan. Sementara perusahaan BUMN banyak yang mismanaged, pejabatnya nggak jujur, nggak efisien, jadi laba kecil banyak yang merugi.

Terakhir , kalau saya minta mereka berandai-andai sebagai wakil shareholder negara ini — katakan menteri keuangan or dirjen pajak, mereka lebih senang memelihara perusahaan-perusahaan asing atau lokal dan BUMN. Dengan alasan yang sama, banyak yang bilang lebih senang dengan perusahaan asing karena lebih efisien, jadi profitable dan bayar pajak yang lumayan besar buat membiayai anggaran pembangunan negara. Sementara perusahaan BUMN selain banyak yang dimismanaged, pejabatnya suka korup, nggak efisien, jadi laba kecil atau merugi dan merepotkan keuangan negara. Dan banyak juga yang suka ngemplang pajak.

Lalu kalau semua stakeholders — pekerja, pelanggan, dan pemilik – lebih senang dengan perusahaan asing atau perusahaan lokal yang dimanaged/dimiliki wholly or partially oleh asing, kenapa para sontoloyo ini masih teriak kiri kanan anti ekonomi pasar, anti modal asing…dukung ekonomi ‘kerakyatan’, etc. Etc. Kenapa, wooi…?

O ya, ada beberapa teman yang punya jawaban sedikit berbeda. Yang pertama, Yayat;dia gak sreg dengan perusahaan dan pemodal asing karena orang asing kebanyakan kafir katanya. Tentu, perusahaan Arab sebagai pengecualian. Yang kedua, Pendi; dia gak mau kerja di perusahaan asing karena IP nya pas-pasan dan malas bahasa Inggris, karena emang nggak bisa. Yang ketiga, Radi; ini pengusaha muda, pengurus aktif asosiasi pengusaha muda. Dia lebih senang berhubungan dengan perusahaan lokal, karena gampang diajak bekerja sama ngegarap proyek negara, lebih fleksibel, bisa disogok, dikasih kick back, ditawarin cewek, dan lain-lain.

Saya sendiri lebih senang urusin warung dan ternak saya, asing, lokal..sabodo, yang penting asap dapur ngebul.

————————————

http://anginpetang.wordpress.com/

————————————

**
berjalan-jalan di negeri sendiri aku merasa asing.

rosi bertingkah aneh dan menjengkelkan,
meski lebih 10 tahun tidak bertemu, aku masih mengenali wanita cantik yang dulu sering menghirup angin petang berdua denganku,
wajah tirus berkacamata, rambut lurus tergerai sedikit melewati bahu.

tapi yang mengherankan, ia menjerit setengah histeris waktu membukakan pintu rumahnya, di kawasan asratek, ulak karang.
kedua telapak tangannya memegang kedua belah sisi kepalanya,
sejurus kemudian dia membalikkan tubuh dan tergesa meninggalkanku di depan pintu,
mengabaikan tanganku yang tergantung di awang-awang mengulurkan salam padanya,
mulutku masih ternganga usai mengucapkan salam dengan senyum lebar: ‘halo rosi, apa kabar..’ yang gaungnya musnah ditelan jeritan histerisnya.

bertamu ke rumah uni eli juga cukup mengejutkan,
setelah mengetok pintu rumahnya dan mengucapkan ‘assalamualaikum’ beberapa kali,
dari balik gorden tipis akhirnya aku lihat seorang wanita melangkah, mungkin pembantunya,
wanita itu cukup mengejutkanku, karena ia langsung memeluk tubuhku begitu membukakan pintu,
aku cukup kaget dan berusaha melepaskan badan,
namun ia memukulku seperti kesal dan meneriakkan namaku,
sejenak tertegun, aku baru sadar bahwa wanita ini adalah uni eli,
kakak sepupuku tersayang.

kemudian, senang hendak berjumpa dengan beberapa teman wanita satu sekolah SMA dulu kala,
kita berjanji bersua di rumah makan ikan bakar, di kawasan khatib sulaiman – aku punya janji lain nanti malam di daerah pondok dengan kawan-kawan pria.
dari 6 teman wanita yang sungguh berbaik hati meluangkan waktu menjumpaiku,
hanya satu yang segera aku kenali dengan baik: farah;
hanya dua yang langsung menjabat tanganku,
yang lain hanya meletakkan kedua tangannya di dada, seperti orang india bersalaman, dan membiarkan tanganku tergantung kikuk di awang-awang,
atau terlihat seperti setengah hati, menyentuhkan ujung jarinya, lalu dengan secepat kilat menariknya lagi.
aku sungguh menghargai kerelaan mereka meluangkan waktu, namun terus terang sedikit merasa asing dan kikuk

masa kecilku kuhabiskan banyak di puskesmas,
aku cukup akrab dengan nuansa puskesmas, termasuk bau obat-obatan.
yang membuat ku merasa asing ketika mengunjungi uni rita di puskesmas lubuk begalung adalah para suster perawatnya, tidak seperti yang ada dalam bayanganku di masa kecil dulu, perawat atau bidan puskesmas,
mereka sekarang lebih seperti suster atau biarawati katolik.

menjemput adik sepupuku, desi, ke kantornya departemen pendidikan di jalan sudirman, juga aku menangkap kesan keasingan serupa.

juga keasingan yang sama ketika mengantar dua kemenakanku kecilku ke sekolah mereka pagi tadi.

**

berjalan-jalan di negeri sendiri terasa asing,

lihatlah bocah-bocah kecil mungil di sekolah ini,
yang laki-laki bercelana panjang merah, sungguh terlihat wagu,
yang perempuan mereka mengenakkan rok merah panjang hingga telapak kaki, baju putih lengan panjang, dan mengenakan jilbab menutupi rambut indah dan lucu mereka

hilang sudah bayangan teman-teman wanita waktu SMA dulu kala,
hanya farah yang tidak membalut kepalanya dengan jilbab,
yang lain berjilbab berkerudung,
hilang sebagian keakraban lama,
karena berjabat tangan pun kini nampaknya haram,

ingin mengobati kerinduan akan masa-masa SMA dengan mereka,
aku mampir ke bekas sekolah ku di pojokan jalan sudirman,
namun, ini sama sekali dunia asing,
aku terasa seperti memasuki kompleks pesantren di pulau jawa sana,
semua siswi berjilbab membungkus kepalanya, rok panjang abu-abu hingga ke mata kaki.

kantor gubernur, kantor walikota, yang kulewati juga tak banyak berbeda,
semua staf perempuan berbaju panjang dan membungkus kepalanya dengan jilbab coklat.

juga para suster di puskesmas, mereka berjubah putih atau bercelana panjang dan berjilbab.

aku tak mengenali uni eli, karena kepalanya terbungkus jilbab, bajunya panjang menjuntai.

yang amat menyedihkan rosi, ia seperti merasa telanjang di depan ku hanya karena tidak menutupi rambutnya dengan jilbab, menyedihkan sekali :(
sungguh, rosi, aku tak birahi hanya karena melihat rambutmu..

tak banyak berbeda, ketika aku meninggalkan kota padang,
dan menjejakkan kaki di kampung halamanku di pesisir pantai,
meski tak terlalu memprihatinkan seperti padang,
nyata kampungku diubah,
wajah-wajah yang kukenal, teman perempuan masa kecil dan SMP, uni, etek, ayek, dll.
sebagian besar dari mereka sekarang berjilbab,
dulu, dari sekian banyak mereka, tak seorangpun yang berjilbab, zero.

berjalan-jalan di negeri sendiri aku merasa asing,
dimana-mana wanita berkepala bundar seragam,
menyembunyikan membungkus rambutnya dengan sehelai kain,
mereka seperti robot-robot dari negeri jauh,
bukan wanita-wanita tersayang dari negeri sendiri.

**

tuhan, kalau engkau benar-benar maha kuasa,
dapatkah kau kembalikan negeriku padaku?

aku rindu teman-teman lama tertawa bersama, berjabatan tangan
aku rindu suasana masa kecil di puskesmas, yang kini terasa seperti rumah sakit katolik.
aku rindu bocah-bocah kecil dengan rok merah dan baju putih bermain tali di halaman sekolah,
bocah kecil dengan rambut berkepang dua, rambut panjang dijalin berulir, rambut pendek menggantung di atas bahu, atau rambut keriting yang lucu,
aku juga rindu wanita-wanita kampung berbaju kurung, berselendang…

aku tak memintamu menelanjangi wanita-wanitaku tersayang, ‘han,
tapi dapatkah kau kembalikan negeriku padaku?

http://anginpetang.wordpress.com

———————————————————
note: pada saat yang bersamaan koran-koran lokal tak hentinya memberitakan tentang penggunaan narkotika yang terus naik secara eksponensial dan merambah kampung-kampung kecil. juga tentang korupsi dan tuduhan korupsi, maling, perampokan, penipuan, wanita memperdagangkan diri, tentang terminal yang hilang, lalu lintas yang semrawut, pelayanan kesehatan yang tak bertambah baik, kualitas pendidikan yang terus menurun……

Seperti banyak orang minang yang  tumbuh dan besar di kampung, saya naturally tidak punya kesan dan persepsi yang bagus tentang orang batak.

Batak adalah kafir pemakan anjing. Tentu juga makan babi, tidak beradat, maling, perampok, mabuk, dan ujung titit tidak dipotong, adalah hal-hal lainnya yang worth to mention.

Tentu berbeda sekali dengan orang Minangkabau yang islami, beradat dan santun, serta berbudaya.. Berbeda sekali dengan orang Minang yang katanya berpendidikan dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang batak adalah kaum yang malang berbudaya rendah dan sayangnya juga mantiko, menyebalkan dan berpeluang besar jadi sampah masyarakat.

Mungkin tidak hanya saya, banyak batak sendiri yang mencoba membangun jarak dengan kebatakan mereka. Lihatlah, betapa mandailing, angkola, dan juga sebagian karo atau dairi-pakpak mencoba memutuskan asosiasi dengan kebatakan mereka. Bahkan, banyak yang terang-terangan di pantai timur menjelma menjadi melayu.

Namun, belakangan, banyak hal-hal baru tentang orang batak yang saya ketahui. Nggak semua batak jadi kernet bus, banyak yang jadi sopir juga, dan sekaligus pemiliknya. Banyak juga batak yang motong ujung tititnya, nggak makan anjing, nggak makan celeng. Banyak batak yang rajin ke mesjid, bernama arab, dan berjilbab ria. Banyak batak yang mentereng, wangi, mengkilat, dan gak berjigong. Banyak batak jadi camat, lurah, menteri, bupati, gubernur, rektor, dan pengusaha. Banyak batak yang cantik jelita, tampan rupawan, ganteng rumanteng.

Di Bandung, saat nyasar sekolah di jurusan dan fakultas top di kampus yang katanya paling tob se Indonesia, saya baru menyadari betapa banyak batak cerdas berseliweran. Kalau minang perantauan diexcluded, surely lebih banyak si batak pintar di kampus ini daripada si minang. Batak-batak ini tak hanya senang bergitar, mereka juga pintar bernyanyi bersama dalam paduan suara harmonis. Dan saya nggak sempat lihat mereka makan anjing, malah pada rajin ke restoran padang.

Selain berambut hitam, berjakun, dan berpantat dua, banyak kenalan dekat batak saya yang berhati lembut, santun, dan pemurah hati. Ingin rasanya saya menuliskan nama-nama teman lama batak itu di sini.

The reality is… tertinggal beratus-ratus kilometer di belakang, batak melaju kencang, dan dengan mantap menyalip Minang yang senang berlenggak-lenggok seperti banci dengan pantun-pantun dan ayat-ayat al quran berhahasa arab kuno itu.

Di Jakarta, batak menyelip di antar ratusan pedagang minang, dan menggeser pelan-pelan, bahkan mendominasi di beberapa titik. Lebih banyak pengusaha baru sukses batak dari pada minang. Lebih banyak insinyur berkualitas batak dari minang. Lebih banyak eksekutif baru batak daripada minang. Jangan ditanya pengacara, hakim dan jaksa Lebih banyak batak jadi politikus dan birokrat daripada Minang. O iya, ada Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dll…iya, di abad lalu…

Penulis dan sastrawan? Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Idris, Adinegoro, etc? Masih untung masih ada Pak Habe dan Pak Edizal. Dan yang jelas semakin banyak perempuan cantik lebih tergila-gila pada batak sukses, regardless ujung titit mereka dipotong atau tidak, daripada Padang bau rendang.

Ada beberapa nama Minang yang mencoba terseok-seok menyaingi Batak, tapi mereka lebih minang perantauan yang tidak terikat pada nilai-nilai primitif minang.

Yang tersisa? yang tersisa bagi orang minang adalah keirian, setidaknya bagi minang seperti saya. Tidak gampang mengubah perspective yang sudah built-in tentang kaum inferior bernama batak, pemakan anjing, titit berujung, perampok, pemabok, dan yes kafir…Yang ada adalah keirian. Ini sangat berat bagi orang Minang, menghadapi kenyataan menyakitkan ini.

Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.

Menolak adat dan kebiasaan yang tidak sesuai jaman dan tidak produktif; belajar dan mengadopsi peradaban, kebudayaan, dan pengetahuan baru dari Eropa atau Timur Tengah; kritis, berani berbicara dan bertindak; membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar… semuanya adalah pondasi kesuksesan orang Minangkabau di masa lalu. Hal yang dilupakan telak-telak oleh orang Minangkabau sekarang, diambil alih dengan mantap oleh orang batak. Orang minang senang meringkuk dalam tempurung adat bersyandi syarak, dan syarak bersandi kitabullah itu. Rajin menghapal pantun-pantun dan ayat alquran berbahasa arab, dan berpegang padanya erat-erat, very tightly.Tidak punya nyali dan titit untuk melangkah keluar dari tempurung kecil berselimut sabut kelapa jamuran itu.

Setiap kali saya membaca koran, majalah, internet, dan menonton tivi..saya seperti melihat Muhammad Hatta dengan marga Situmorang sedang berbicara atau dibicarakan, saya seperti melihat Sutan Sjahrir dengan marga Panggabean; M Natsir Simbolon, M Yamin Pangaribuan, Agus Salim Butar-Butar, Adinegoro Hutabarat, Chairil Anwar Harahap, Sutan Takdir Alisjahbana Simanjuntak, Marah Rusli Siagian, Rohana Kudus Napitupulu, Rasuna Said Siregar, Abdul Muis Tobing, Tan Malaka Marpaung, Buya Hamka Pardede….

Menurut majalah Tempo, 6 dari 10 tokoh Indonesia paling berpengaruh di abad 20 adalah kaum minoritas Minangkabau. Quite possibly, untuk abad 21, enam dari sepuluh tokoh itu adalah dari kaum minoritas Batak.
Nampaknya, mimpi saya untuk melihat orang Minangkabau membangkit batang terendam, mengulangi kejayaan masa lalu tercapai sudah, melalui kaum Batak kafir pemakan anjing ini.

Tapi, sebaiknya saya berhenti mengasosikan Batak dengan anjing, baiknya lah dengan kabau alias kebo. Kerbau adalah simbol kemenangan orang Minang di masa lalu=  ‘Minangkabau’. Namun, kini orang Batak jelas lebih berhak memanggulnya…Batakkabau!

Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Sikumbang ini menjadi marga Simatupang.

—————————————
htpp://anginpetang.wordpress.com

* Menangisi Silsi

**
silsi jelita,
matanya berbinar sumringah
bibirnya merekah
kulitnya halus bercahaya

silsi jelita
lihatlah ketika ia melangkah
kakinya yang indah
gerakan tubuhnya
palingan wajahnya
dan geraian rambutnya

silsi jelita
senyumnya senantiasa merekah
silsi senang tertawa
silsi senang bercerita

hidup untuk dijalani, dinikmati, dan dibagi
silsi senang berbagi
tawa dibagi, cerita dibagi
suka dan sedih

silsi jelita dan nampak bahagia
tidak dua, tidak tiga, lelaki terpana dan terpanah

silsi disuka, silsi disayang
tak hanya lelaki, juga perempuan,
sanak famili, handai taulan

o, jelita

**

lalu datang tragedi memilukan itu
duapuluh tujuh tanggal hari itu
tak akan ku lupa sepanjang hidupku

mulanya, kami tertawa bersama,
berbagi cerita dan suka,
menunggu maghrib tiba,
dan berteriak gembira: buka!
lalu berlomba melepas dahaga
senangnya..

sepekan lagi ramadhan pergi
kegembiraan ramadhan kan diganti aidil fitri
aku akan melayang ke negeri pesisir esok pagi
maka, kami hirup sedalam mungkin, wangi segar sore dan senja ini

agar maghrib tak habis ditelan isya dalam cerita dan tawa,
kami berucap salam dan melangkah berpisah

sebelum menaiki taksi kupalingkan badan
silsi masih berdiri di sana tersenyum dari kejauhan
ia melambaikan tangannya lagi
angin senja kebayoran mempermainkan rambut indahnya
beberapa helai menutupi wajah jelitanya
bibirnya seperti mengucapkan sesuatu,
namun tak begitu jelas bagiku…

**

kemudian,
yang aku tahu silsi mendatangi tempat itu, di kawasan kebayoran baru
tempat ini cukup populer disebagian kalangan anak muda jakarta
aku dan silsi pernah mampir sesekali di tempat ini, biasanya siang atau sore hari,
sambil menyandarkan badan yang lelah.

aku tahu silsi telah beberapa kali diajak, tepatnya dibujuk,
mendatangi tempat ini dimalam hari,
ada satu dua rekan yang intense sekali membujuk silsi,
katanya kalau malam suasananya beda, lebih ramai,
dan ada acara khusus yang menyenangkan,
perempuannya juga banyak kok, begitu rayu mereka,

aku tau silsi keberatan,
in fact, sebelum berpisah senja itu, silsi masih ragu-ragu dan bertanya padaku,
apakah sebaiknya dia datang ke tempat itu, malam itu;
terus terang aku nggak suka, tapi stop short of saying No or Jangan,
cuman bilang aku kurang sreg, but it is up to you, dear.
toh, sebagai sahabat aku tak seharusnya memaksa dia terlalu jauh,
sebuah sikap yang sungguh aku sesali hingga detik ini

lalu, silsi memutuskan pergi, nggak salah mencoba katanya,
lagian gak enak udah sering diajak, dan pergilah dia.

aku tak tau banyak,

yang aku tau silsi dan rekan-rekannya itu stay di sana cukup lama, lewat tengah malam;
acara makin seru ketika midnight lewat, kabarnya
awalnya, banyak obrolan dan cerita,
namun semakin lama lelaki berjambang dan berjenggot tipis itu semakin mendominasi,
makin agresif dengan kata-kata persuasif namun tajam,
suasana yang sedemikian rupa juga membuat silsi lelah, kalut, takut, dan tak berdaya..

aku tak tau banyak

yang aku tau silsi menangis malam itu, menjelang subuh,
ia merasa berdosa, ia merasa kotor.

duapuluh tujuh tanggal hari itu,
tak akan ku lupa sepanjang hidupku.

**

lama aku tak berhasil menghubunginya
ketika kami bertemu, aku merasa asing,

silsi asing,
senyumnya tak lepas
tawanya hampir tak pernah aku dengar
matanya yang berbinar bercahaya entah kemana
ia seperti tak berani memandang mataku
gerakan dan ekspresi tubuhnya kaku seperti dibuat-buat dan tak alami
silsi tak bercerita banyak seperti sediakala
ia seperti tak punya banyak waktu untuk dihabiskan denganku
sebelum bergegas meninggalkanku
pertemuan asing itu tak berlangsung lama

aku rindu silsi,
sempat dua kali lagi kami bertemu,
tapi semua pertemuan singkat itu adalah pertemuan asing,

aku rindu silsi
aku rindu matanya yang berbinar
aku rindu senyumnya yang merekah
aku rindu tawanya yang lepas

aku rindu silsi
aku rindu ceritanya yang menyenangkan
aku rindu curahan hati kesedihannya
aku rindu jokenya yang kadang tak lucu

aku rindu silsi
jelita yang melangkah percaya diri
gerakan kaki indahnya
lenggokan tubuh alami apa adanya
mimik wajahnya, palingan wajahnya,
dan geraian rambut indah sebahunya

**
aku tahu silsi telah pergi
pertemuan terakhir kami adalah senja itu
senja ramadhan di kebayoran
masih terekam jelas dalam ingatanku
lambaian tangannya
senyumannya dari kejauhan
rambut indahnya yang dipermainkan angin senja
sebagian menutup paras jelitanya
bibirnya seperti mengucapkan sesuatu,
namun tak begitu jelas bagiku waktu itu,
kini, aku yakin itu adalah ucapan selamat tinggal darinya:
“good bye, sahabat…”
ucapan itu tak bersuara,
namun menggema kencang dalam ruangan jiwaku,
bertahun-tahun lamanya

**
———————————————————–

http://anginpetang.wordpress.com/

———————————————————–
ps. tempat itu adalah masjid *******, kebayoran, jakarta. dulu, pada malam-malam tertentu mereka mengindoktrinasi “target” (“korban” mungin terdengar  terlalu kasar…), umumnya wanita. dalam suasana yang sedemikian rupa, panjang dan melelahkan, dakwah, bujukan, rayuan islami disampaikan; pertanyaan-pertanyaan diberikan, apa yang telah diperbuat, apa yang telah dilakukan, dll. lalu lewat indoktrinasi yang mulanya lembut dan increasingly agresif, wanita targetnya akan merasa tak berdaya, dan in particular mereka merasa telah kotor berbuat dosa, mengindahkan perintah alquran, sunah nabi, dll. satu-satunya jalan adalah bertobat…maka di”tobat”kan para target, malam itu juga, dan menjadi bagian dari komunitas tersebut…setidaknya untuk beberapa waktu, part of pertaubatan dan pembentukan diri dan jiwa.

 

so, dijagalah bicara dan tingkah laku silsi, dibatasi langkah kaki dan aktivitas, diatur apa jalan hidup yang mesti ditempuh, berjilbablah silsi sekujur kepala dan tubuh… in essence, direduksilah kemanusiaan silsi menjadi so-called wanita muslimah.

 

pada bagianku, aku bersumpah tak akan menjejakkan kaki lagi di masjid itu.

*
di pesisir malam angin berterbangan di atas atap-atap rumah,
bergentanyangan di pucuk-pucuk kelapa,
sebelum berlarian menuju pantai menggiring nelayan-nelayan kami perkasa
menerjang hitamnya samudra,

di pesisir malam angin menjadi sedikit keras
berdesiran daun-daun bambu dan kelapa di belakang rumah,

wanita yang selalu kupanggil ibu sejak aku bisa bicara itu terlihat tidak
kunjung lelah;
ibu dimana-mana adalah manusia yang luar biasa;
ibu yang penuh cinta meski aku seperlunya saja mencintainya;
dimana-mana ibu adalah sama,
kekhawatirannya akan anak-anak yang dicinta bisa membuat anak laki-laki
durhaka seperti saya menjadi muak;

adalah sama ibu-ibu di mana-mana;
mulutnya tak pernah berhenti berbusa dengan segala nasihat panjang
berjelo-jelo,
menjuntai-juntai, menjulur-julur,
mengulang-ulang hal yang sama membuat telinga saya berdenging ngiung-ngiung;
persepsi ibu terhadap kematangan anaknya selalu jauh tertinggal dari usia
si anak sendiri;
anak ibu adalah selamanya anak-anak;

dan saya sungguh lelah,
melihat ibu yang tidak kunjung lelah,
sementara di pesisir malam angin makin kencang berlari,
saya mulai khawatir para angin tidak hanya menggiring nelayan-nelayan kami
ke hamparan samudra,
tapi mungkin mulai mengayun-ayun mereka di alunan gelombangnya;

ibu tidak kunjung lelah,
meski peluh menguyupi muka dan lehernya;
while saya makin lelah dan muak;
dan saya mulai mengeluarkan satu persatu barang-barang yang dikemas ibu,

ibu, saya tidak butuh bantal dan guling ini,
selimut tebal kepunyaan bapak juga tidak,
biarlah saya berkain sarung saja;
ibu, gulo yang lima kilo biar buat bapak saja bikin kopi di rumah;
tas asoi dan plastik keresek dua saja cukup,
tidak usah dua puluh tujuh lembar segala;
saya tidak mau bawa petai,
apa kata orang nanti;
al quran baiknya di sana saja saya beli ;
sajadah yang kecil saja,
jangan sajadah besar kesayangan bapak ini;
dua puluh bungkus sinansari mie buat bapak saja;
dan celana dalam ini punya si abang,
saya tidak mau pakai, biar masih bagus

sepasang mata itu menjadi begitu cemas,
dan membujukku memasukkan barang-barang kemasannya ke dalam tiga tas
buntalan ini;
negeri itu dingin, nak, kain sarung akan membuatmu tetap kedinginan di malam
datang;
dan tidur tidak berbantal bisa bikin kamu pegal-pegal dan demam;
kalau kamu tiba-tiba lapar tengah malam…
kalau….kalau..

no, ibu!
no selimut, no bantal, no gulo, no pete, no kolor si abang…
ibu memang menyebalkan karena cintanya;

jam dinding berdentang-dentang dua kali;
di pesisir malam angin tidak lagi berlari,
mereka menderu berpacu bersama cahaya,
para angin nampaknya tidak lagi sekedar mengayun-ayun nelayan kami;
tapi mungkin mulai membolak-balik mereka seperti martabak dalam gelegak
samudera;

ibu tiba-tiba menaruh jari telunjuk di mulutnya,
mengeluarkan sesuatu dari kantong baju longgarnya;

’ssst…
ini satu dari simpanan ibu, bukan punya ayah,
kau simpan baik-baik,
perjalanan mu panjang dan jauh ke tanah seberang,
dunia dengan segala hiruk pikuknya mungkin akan melukai mu berdarah-darah;
ketika kau terluka dan ibu tak berdaya di pedalaman pesisir ini,
kau gunakanlah ini’

angin mulai memancing kemarahan kami orang pesisir,
suara derak dahan patah menghempas keras ke dalam kolam ikan di belakang
rumah;

*
di jakarta malam tuhan menaburkan hujan
dia lagi boros sama air,
padahal pastilah tuhan tahu,
memberi air berlebihan pada kami yang bodoh, miskin, dan serakah ini akan
berujung pada bencana;

beberapa orang mulai gemetaran
beberapa orang mulai menggigil berguncangan,
beberapa orang mulai hanyut,
beberapa orang mulai terluka,
beberapa orang mulai sekarat,
and, tuhan, you know that, beberapa orang mulai mati;

aku mematikan tivi,
george w bush hanya bikin muak mengingatkanku pada harmoko,
dengan pidato-pidato kosong tanpa makna yang diulang-ulang;

malam makin kuyup di jakarta,
ketika tuhan terus menaburkan hujannya;

malam makin hitam di jakarta,
ketika listrik berhenti menerangi kamar;

saya menyalakan lilin hijau kesayangan saya,
membiarkan cahayanya meliuk-liuk menari-nari kegelian digelitik angin tipis
yang menyelinap dari balik kaca nako;

ada beberapa hal yang bisa saya nikmati ketika listrik mati;
satu, menyalakan lilin dan menikmati liukan cahayanya serta tetesan wax
melumeri segenap tubuhnya;
mengagumi ketegaran lilin memainkan peran horornya: membakar tubuh hingga
habis binasa;

kemudian adalah bermain gitar,
ketika lampu mati, komputer is dead, tivi tewas, radio puduah, keyboard tak
bernyawa;
maka gitar menjadi teman setia;

saya sedikit sedih melihat debu yang melumurinya;
gegap gempita jakarta membuat saya lupa dan tak sempat memandikan jiwa
dengan petikan gitar setia ini;
senar-senarnya tak lagi selaras, pertanda begitu lamanya dia tergantung tak
berarti di atas keyboard yang juga mulai berdebu;

seperti umumnya gitar klasik,
senar 4, D, is the fastest moving sparepart;
suaranya sember tak lagi mendenting,
membuatnya tak harmonis dengan senar yang lain meskipun diset pada frekuensi
yang selaras;

saya ingat menyimpan beberapa senar D di laci bawah lemari;
saya biasanya menyimpan satu atau dua senar D, dan satu senar A;

tuhan masih saja menghempaskan hujannya ke kota sumpek, bising, kotor,
berdebu yang saya cintai ini;
sementara jongkok dan membungkuk-bungkuk,
mencari-cari barang kecil di antara tumpukan kertas-kertas, pernak-pernik
tak jelas,
dengan hanya cahaya lilin yang sayup sayup,
bukanlah pekerjaan yang menyenangkan bagi saya,
apalagi ketika punggung dan pinggang yang menua mulai tidak bersahabat
dibebani aktivitas yang berlebihan dan kurang ergonomis;

tiba-tiba sebuah map plastik jatuh dari laci sebelah atas,
beberapa isinya berserakan;
saya tertegun mengamati sebuah bungkusan kecil sapu tangan;
map plastik ini adalah tempat saya menyimpan beberapa dokumen yang saya
anggap agak penting;

darah saya tersirap melihat bungkus kecil sapu tangan tadi,
apalagi ketika saya membukanya;
bertahun-tahun saya lupa bahwa saya sebetulnya memiliki bungkus kecil sapu
tangan ini;
bungkus kecil sapu tangan didalamnya sebuah cincin emas yang saya tidak tahu
berapa gram beratnya;

saya bertanya pada diri sendiri,
mengapa saya bisa lupa kalau saya memiliki cincin dalam bungkusan sapu
tangan ini?
saya mulai menyesali diri,
kenapa saya melupakan cincin emas sederhana ini hingga bertahun-tahun?
saya mulai menyalahkan diri,
mengapa melupakan cincin yang telah menjaga saya penuh cinta hampir lima
belas tahun lamanya?
saya tidak tahan untuk tidak memaki diri,
kenapa saya saya melupakan cinta yang begitu dalam pada cincin itu?

kalimat itu masih terngiang di telinga saya,
di pesisir malam ketika angin berterbangan:

’ssst…
ini satu dari simpanan ibu, bukan punya ayah,
kau simpan baik-baik,
perjalanan mu panjang dan jauh ke tanah seberang,
dunia dengan segala hiruk pikuknya mungkin akan melukai mu
berdarah-darah;
ketika kau terluka dan ibu tak berdaya di pedalaman pesisir ini,
kau gunakanlah ini’

ibu memberikan salah satu miliknya yang paling berharga buat saya,
sebuah cincin emas, satu dari hasil tabungannya bertahun-tahun,

‘ambillah nak, jaga dia baik-baik,
karena dia akan membantu menjagamu ketika ibu tidak ada;
ketika kau terjatuh nak, terluka berdarah-darah,
ketika kau jatuh, nak, tak mampu berdiri,
ketika tak satu pun bisa menolong mu di negeri jauh itu,
ibu yang jauh di pedalaman pesisir jelas tak bisa berbuat apa-apa, nak,
maka ibu berikan ini pada mu, nak;
juallah…agar kau bisa berdiri dari jatuh,
setidak-tidaknya kau punya sesuatu sehingga kau bisa pulang ke rumah
kita, di negeri pesisir,
dan kau tidak akan pernah gagal di mata ibu,
meski pun kau kelak pulang, melangkah terseok-seok di anak tangga dengan
tubuh terluka karena kalah,
kau tidak pernah gagal di mata ibu,
karena ibu mencintaimu’

setetes air mataku jatuh di cincin emas ini;

telah, aku tidak hanya melupakan cincin dan cinta didalamnya,
dalam sebagian besar waktu aku sering melupakan cinta ibu,
bahkan melupakan ibu,
wanita tua yang semakin tua yang menganyam hari tuanya di negeri pesisir,
sendiri
.
.

jkt04
—————————-

Ayah sudah berdiri di sampingku, tersenyum, sedikit saja, dan mengacak-acak
rambutku. “Ayo bangun, sembahyang, dan kita melintasi embun…”

Betul, ayah berjanji semalam, janji lama ayah yang tak pernah sempat
tertepati. Pagi ini kami akan melintasi embun di lutut Gunung Sago, jauh
dari tanah pesisirku yang berkelapa berangin berombak.

Pintu rumah tua ini berderit ketika kami melangkah keluar. Angin gunung
menghujam-tikam dalam sekali ke pusat tulang. Aku mengikuti langkah ayah
menuruni tangga kayu. Seekor kupu-kupu hinggap di bahu ayah. “Ayah seperti
Aladin,” aku tertawa karena ayah membiarkan saja kupu-kupu itu rebah di
bahunya.

“Ayah, embun mana?”
“Semuanya embun”
“Semuanya?”
“Semuanya, dimana-mana…,” ayah merentangkan tangan.

“Embun di atas kepala kita, embun kita pijaki, embun kita hirup, embun
membasah daun-daun, putik-putik, bunga-bunga, rumput, tanah. Embun
membaluri
kita…”

Kami berbelok ke kiri, melangkah di atas rumput-rumput basah. Semak dan
bunga-bunga liar, basah di mana-mana. Di sebelah kiri kami adalah rumah
adat tua besar bagonjong, ada tiga empat lagi rumah bagonjong lain. Di
lembah kecil, di belakang rumah bagonjong besar tua itu, delapan sembilan
rumah berkelompok. Ada dua rumah kecil dengan pohon pisang di sekelilingnya
di tebing tinggi ke arah gelanggang.

“Dulu, hanya rumah kakek dan rumah gadang bagonjong itu. Sisanya adalah
pohon, bunga liar, semak, ilalang. Kemudian yang ada pohon lagi, ilalang
lagi, semak lagi, bunga liar lagi… “

“Dulu, hanya kakek, nenek, ayah, Paman Tabano, paman kecil, bibi, dan Mak
Leman serta kakek, nenek, paman, dan bibi tetangga di sebelah rumah.
Sisanya adalah burung, ayam hutan, monyet, siamang, burung, burung dan
burung dimana-mana…”

Ayah memutar pandangannya ke sekeliling, aku pun ikut memutar kepala.

“Dulu ini hutan”
“Ayah tinggal di hutan?”
“Iya, di hutan”

Kami berjalan terus, menuju gelanggang. Rumpun pimping menyemak tebing
sebelah kanan, tiga rangkiang, lumbung padi, berjejer.

“Dulu, ayah di atas rangkiang, kakek dan Paman Tabano melemparkan karung
padi dan beras ke atas”
“Sampai penuh, ayah?”
“Penuh”
“Lalu bagaimana ayah keluar?”
“Sebelum dua karung terakhir”

Angin gunung tetap dingin. Kami sampai di sisi gelanggang. Pemandangan yang
menggetarkan. Sepercik merah di langit timur, sisanya gelap, satu dua
bintang berpijar mekar. Gelanggang luas, dilingkari tebing di
sekelilingnya.

Seberang tebing gelanggang sana, kiri tebing gelanggang sana, kanan tebing
gelanggang sana, yang kulihat hanya hutan, pepohonan rimbun dalam gelap.

“Dulu, kuda-kuda berpacu di sini, di gelanggang ini. Kuda berpuluh berpeluh
berpacu berdebu. Sekeliling tebing penuh orang bersorak sorai. Bendera
merah, biru, hijau, kuning berkibar. Penjaja kacang goreng, lotere,
berteriak-teriak diantara sorak sorai. Lalu kakek akan membelikan ayah
sebungkus kacang goreng, Paman Tabano sebungkus pula”

“Ayah masih kecil waktu itu?”
“Iya, ayah sebesar kamu, kakek seumuran ayah”
“O ya?” Aku tersenyum geli, lucu membayangkan ayah jadi anak-anak seperti
aku.

“Waktu cepat berlalu”
“Kenapa cepat ayah?
“Karena kita tenggelam di dalamnya”
“Tenggelam?”

Ayah melipat tangan ke dada. Sehelai daun gugur melayang menyentuh rambut
ayah, sebelum berlabuh di rerumputan.

“Kau dengar suara air itu?”
“Iya, kudengar jelas, ayah”

“Adalah sungai itu di tengah rimbun pohon di seberang tebing sana. Berhulu
dari Gunung Sago, lalu menyatu dengan puluhan sungai lainnya, sebelum
bermuara di Selat Malaka”

“Selat Malaka? Jauh sekali…Betulkah, ayah?”
“Apakah ayah pernah berbohong?”
“Tidak, ayah”

Kami duduk di tebing ini beralaskan rumput berembun, memandang lurus ke
gelanggang pacu. Mulut kami senantiasa berasap, beruap di dingin pagi.

“Di sungai itu ayah menunggu”
“Ayah menunggu siapa?”
“Menunggu nenek dan Mak Leman membawa bekal, membawa berita. Nenek dan Mak
Leman menunggu malam sepekat-pekatnya, kelam sehening-heningnya di hutan
ini”

“Ayah kenapa? Nenek dan Mak Leman kenapa?”
“Ayah harus masuk hutan”
“Bukankah ayah dulu tinggal di hutan?”
“Ayah harus mencari hutan yang lebih jauh lagi, lebih rimbun lagi, lebih
dalam lagi, lebih pekat lagi”
“Ayah kenapa, sih?”

Ayah menghela nafas, mendongak ke langit sesaat, untuk kemudian meluruskan
pandangannya lagi.

“Ayah berperang”
“Ayah berperang?”

Aku memutar duduk menghadap ayah. Ayah berperang! Hebat!

“Ayah menyandang meriam, senapan, atau bom atom?”
“Senapan”
“Wow!”
“Ayah berperang dengan siapa di hutan? Dengan Belanda?”
“Bukan”
“Jepang?”
“Bukan”
“Inggris, ya?”
“Bukan juga”
“Melawan Amerika?”

Ayah menggelengkan kepala.

“Sepanyol?”
“Juga bukan”
“Lawan Arab?”
“Bukan Arab”
“Perang dengan Orang Indian?”
“Bukan”
“Ayah berperang dengan Orang Cina, ya?”
“Bukan, bukan dengan Orang Cina”
“Masa Ayah melawan Tarzan?”
“Ya, bukan”

Aku kehabisan koleksi negara di kepala, kehabisan musuh untuk ayah.

“Ayah berperang melawan Tentara Pusat!” Sekelebat asap putih meluncur dari
mulut ayah.
“Tentara Pusat? Mereka dari mana ayah?”
“Dari Pusat”
“Mereka jahat?”

“Mereka memasuki kampung-kampung, mereka mengacak-acak dan merusak isi
rumah, mereka merusak bahkan kadang membakar rumah, mereka membentak-bentak
orang, mereka menyuruh-nyuruh orang, mereka menangkap orang-orang, mereka
memukul orang-orang, mereka membunuh orang-orang, mereka membunuh
teman-teman ayah, mereka membunuh Paman Tabano…”

Ayah terdiam memandang jauh ke seberang sana, ke arah suara sungai. Aku tak
sabar menunggu ayah melanjutkan cerita.

“Jadi Tentara Pusat jahat ayah?”
“Tidak semuanya jahat”
“Kenapa ayah berperang dengan Tentara Pusat?”
“Karena mereka menumpas pemberontak, sementara ayah berjuang melawan
tirani”
“Tirani?”

Ayah hanya diam.

“Ayah pasti menang! Ayah menembak semua Tentara Pusat itu ‘kan? Lalu mereka
mati berdarah-darah, teman-temannya menyerah, mengangkat tangan. Kemudian
ayah akan membentak-bentak mereka dan merantai mereka. Mereka merangkak
memohon-mohon ampun pada ayah, ‘Ampun.ampun…’. Benar ‘kan, ayah?”

Ayah masih memandang jauh ke seberang tebing itu, ke sungai itu. Selintas
bintang jatuh menyilang di langit, sebelum tenggelam di pelukan rimbun
pepohonan.

“Lalu, perang makin keras, Tentara Pusat berpuluh-puluh ribu memasuki
negeri kita. Mereka ada di mana-mana. Hampir semua laki-laki muda seperti
ayah lari ke hutan. Yang tinggal ditangkap, atau harus bekerja sama atau
melayani mereka”

“Ayah lari makin jauh ke dalam hutan, mungkin ayah sudah sampai di daerah
Riau. Berbulan-bulan lamanya ayah di hutan pekat belantara, ayah tidak
kembali ke hutan kampung ini. Sampai hari itu…”

“Sampai hari itu seseorang membawa selembar kertas. Pesan dari nenek: ayah
harus segera pulang, nenek akan menunggu di tepi sungai itu. Setelah sekian
lama di hutan, ayah tersentak-ingat nenek, kakek, bibi, paman kecil. Lalu,
berhari-hari ayah dan dua orang teman ayah merambahi hutan mencari jalan
pulang. Sampai hari itu…”

“Sampai hari itu, di tepi sungai sana, seperti biasa di sepekat-pekatnya
malam, di sehening-heningnya kelam. Namun yang tidak biasa ialah nenek
tidak berdua dengan Mak Leman saja. Ada paman kecil, ada bibi, ada kakek
tetangga dan nenek tetangga, ada teman ayah juga….Lalu nenek memeluk
ayah, nenek menangis, bibi menangis keras. Seisi hutan pastilah
terbangun…”

“Ada apa ayah?”

Tegak bangkit, ayah mengulurkan tangannya padaku untuk ikut bangun berdiri.
Ayah membimbing tanganku dan membawa langkah kami menaiki sebuah tebing
kecil yang lebih tinggi sepinggang. Rumpun pimping dimana-mana, beberapa
pohon bambu, semak-semak, bunga-bunga liar, suara jengkerik di beberapa
sudut.

Aku tersentak, langkahku tertahan, refleks kutarik tangan ayah mundur. Aku
sungguh takut pada orang mati.

“Jangan takut, nak,”ayah berujar pelan. Jarang sekali ayah memanggilku
‘nak’.”Itu kakek. Kakek ada di dalam situ, di bawah timbunan tanah itu”

“Kakek?”

“Iya, waktu itu, nenek dan yang lain menangis di tepi sungai itu. Kemudian,
mereka membawa ayah ke sini, ke tebing ini. Ayah hanya bisa melihat
gundukan tanah berpagar bambu. Kakek pergi menghadap tuhan, tak pernah
pamit. Ayah tak pernah sempat memohon maaf pada kakek”

Suara ayah berubah sedikit parau. Aku mendongak: oh, ayah menangis….Air
mata jelas bergulir di muka ayah.

“Ayah kenapa menangis?”
“Ayah menangis karena ayah sedih, ayah menangis karena ayah tidak pernah
sempat meminta maaf”

Aku belum pernah melihat ayah menangis. Aku pun menangis, aku sedih melihat
ayah menangis.

“Ayah bertemu kakek terakhir kali setahun sebelum kakek meninggal. Ayah
bertemu kakek di tepi sungai itu. Ayah membentak-bentak kakek, ayah
teriakkan sekeras-kerasnya bahwa kakek pengkhianat, bahwa kakek pengecut.
Kemudian ayah menembakkan senapan ayah ke udara di depan kakek. Kakek kaget
dan terlonjak, tapi ayah tidak peduli, ayah kemudian berlari ke hutan, ayah
marah, marah sekali…”

“Kakek tidak pernah setuju ayah berperang, kakek tidak pernah setuju ada
perang. semuanya hanya akan berakhir dengan kesedihan kata kakek. Kakek
tidak mau kehilangan anak-anaknya lagi, cukup Paman Tabano. Kakek tidak mau
kehilangan teman-temannya lagi. Kakek mengajak kami semua berbicara dengan
mereka, dengan Orang Pusat”

“Tapi ayah tidak bisa menerima dan mengerti fikiran kakek. Bagi ayah
perjuangan harus diteruskan. Penindasan harus dibalas. Darah Paman Tabano
tidak akan pernah tertumpah sia-sia. Jika kita terlalu lunak dan pengalah
mereka akan makin sewenang-wenang. Lalu ayah membentak dan menghina
kakek,di tepi sungai itu”

Ayah mengusap airmata di pipinya.
Ayah mengusap airmata di pipiku.

“Ayah tidak boleh memarahi kakek”
“Iya, tidak boleh”
“Ayah berdosa pada kakek”
“Iya, ayah berdosa”
“Ayah harus minta maaf pada kakek”
“Tidak bisa lagi”
“Minta tolong tuhan menyampaikannya, ayah”
“Iya”

Ayah tersenyum dan membelai kepalaku.

“Tapi akhirnya ayah menang perang “kan?”

“Kakek meninggalkan pesan buat ayah lewat nenek sebelum beliau gugur. Bahwa
darah harus berhenti ditumpahkan, bahwa perusakan rumah dan kampung-kampung
harus dihentikan, bahwa penyiksaan orang-orang harus dihentikan, bahwa
penghinaaan perempuan kita harus dihentikan, bahwa anak-anak harus sekolah
lagi. bahwa kita harus berhenti berperang, bahwa mereka terlalu besar dan
kejam untuk dilawan. Namun apa? Kakek gugur juga di tangan mereka! Tentara
Pusat itu menembak kakek! Ayah geram sekali!”

“Ayah tidak menunggu pagi, waktu itu. Ayah langsung memanggul senapan ayah,
setengah berlari tergesa”
“Ayah pergi kemana?”

“Ayah akan mendatangi markas Tentara Pusat di kampung ini. Ayah akan
mendatangi mereka. Ayah hapal betul liku-liku kampung ini. Dan tanpa
Tentara Pusat sadari, ayah sudah berada di samping markas mereka. Beberapa
orang Tentara Pusat yang mengantuk-ngantuk, kaget dan bingung celingukan.
Ayah tidak menunggu sedetik pun, segera mengangkat senapan ayah”

“Ayah tembak mereka semua ‘kan? Semuanya mati, Ayah? Orang-orang yang
membunuh kakek dan Paman Tabano itu mati berdarah-darah semuanya ‘kan? Ayah
menang!”

“Ayah angkat senapan ayah ketika mereka masih mengantuk setengah tidur,
kaget, dan kebingungan. Mereka inilah gerombolan yang membunuh kakek, yang
membunuh Paman Tabano, yang membunuh teman-teman ayah, yang merusak
rumah-rumah di kampung sini, yang menghina warga kampung di sini. Tak ada
lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek…”

“Pasti musuh ayah satu markas mati semua ! Ayah hebat!”

“Tak ada lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek kecuali ayah mengangkat
senjata ayah, dan menyerahkannya pada Tentara Pusat yang kebingungan itu.
Tak ada lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek. Ayah menyerah. Kakek
mungkin benar, mereka memang terlalu besar dan kejam untuk dilawan. Kita
terpaksa bicara dengan mereka, meski berarti kita kalah”

Seekor elang melengking dan melayang di atas kepala kami. Pimping-pimping
bergoyang, bambu-bambu bergetar. Pagi dingin dalam embun. Ayah memeluk aku
di depan gundukan tanah ini.

“Waktu cepat berlalu,” ayah menggumam.
“Karena kita tenggelam ‘kan ayah?”

*****

Aku masih menangis, termangu di depan gundukan tanah ini, di tebing ini.
Nyanyian Al Quran terakhir, penutup Subuh dari surau, berhenti mengalun.
Ayah benar, waktu cepat berlalu, karena kita tenggelam di dalamnya. Dua
puluh tahun yang lalu, baru kemarin rasanya ayah memeluk aku di sini,
memandangi makam kakek. Dan kemarin aku memeluk jenazah
ayah,membaringkannya di dalam sana, di bawah gundukan tanah ini,
berdampingan dengan kakek.

Selamat jalan ayah, selamat jalan pahlawan.
——————————————-

*
akhirnya aku telpon dia, ‘nto
halo, sahutnya, tiga kali;
halo…halo..halooo..
begitu,

gila nggak, sih, nto?
aku nekat begitu?

mungkin nggak,
bisa jadi iya,

tapi ‘nto,
kamu tau banget kan,
cinta bergelayut di sekujur jiwa tubuh yang ada ku;
bergelayut dari puncak kepala hingga telapak kaki,
seperti kelelawar merimbuni langit-langit dan stalaktit gua,
hitam pekat dalam menebal,
cinta itu;

cinta yang suddenly menggantung di awang-awang,
takkah kau sadari sekian panjang waktu mengembangbiakkan rasa rindu
sakau yang mempurukkanku dalam lorong panjang di dasar palung terjal kesenyapan?
sementara ombak kehadirannya serasa jelas sekali berbuih berdebur di atas sana;
di atas sana, dengan liukan angin dan siraman matahari,
beserta langit biru cerah ditaburi putihnya awan melingkupi;
takkah, ‘nto?

maka — meski aku telah berjanji tak akan — aku telpon dia, ‘nto;
jari-jari ku tak membutuhkan otakku untuk menekan nomor-nomor itu;
jari-jariku bergerak dituntun syaraf kebiasaan,
lalu dia bersuara,
halo, katanya, tiga kali;
halo..halo..halooo…
begitu.

‘nto,
aku mengaku,
lelaki berwajah keras seperti aku,
adalah makhluk lemah dan cengeng;
dengarlah pengakuanku,
cintaku dalam,
dalam.
bukan sekedar menyalin lirik lagu pop amerika,
i need her so much,
butuh dia banget, nget;

namun,
benar, aku mengaku;
telah kuabaikan cinta dalam kesabar-lembut-tulusannya,
telah kuhambur-hamburkan cinta dalam kesabar-lembut-tulusannya,
sekian lama panjang waktu bergulir;

maka aku tersentak persis seperti tempo hari kesetrum listrik kipas angin sontoloyo itu,
tersedak seperti tempo hari ketika keselak biji duku palembang kecut murahan belegug itu;
untuk kemudian terkapar, nto;
terengah telentang engap-engapan dying,
seperti ketika kita usai show off di lintasan senayan,
berlari sore mengiringi cewek bahenol bernapas kuda, kenalan baru kita itu,

aku tersentak-sedak-kapar-engah-lentang-dying-engap,
ketika dia katakan dengan sabar dan lembut,
bahwa cinta dalam ketulus-lembut-sabarannya telah habis mengering kerontang;
karena sekian lama telah aku hambur-hamburkan,
telah aku foya-foyakan,
tanpa cinta;

maka dia pergi katanya;

namun,
aku adalah lelaki angkuh dari pulau seberang,
panjang perjalanan waktu dan ruang telah aku rambah,
kakiku kokoh,
aku berdiri tegar senantiasa,
dadaku busung,
kepalaku pantang tunduk lemah,
mataku tajam menyorot,
tiada waktu buat menyayu redup,

tentu, tak perlu aku minta dia berfikir ulang,
jelas, haram hukumnya aku bermohon supaya dia keep stayinglah with me,

maka, pergilah dia;
dengan lembut mengucapkan selamat tinggal;

pagi-pagi sekali waktu itu, nto;
udara masih berselimut embun,
dua tiga kupu-kupu masih bercengkerama berlarian disela-sela pohon delima depan kost;
sebelum debu dan hentakan matahari jakarta menyembunyikan mereka entah dimana;

pagi-pagi sekali waktu itu, ‘nto;
bahkan mbok marni penjaja kueh belum lewat;
pak andang baru limabelasan menit balik dari subuhan di musholla;
mbak sumi belum selesai nyuci di belakang;
sherly, manado sexy, baru pulang dari malam panjang di kemang;

dia melangkah pergi,

masih pagi waktu itu, nto;
meski berusaha sok cool,
aku mengamati langkah kakinya menuruni tiga anak tangga depan kost,
menutup pagar,
kemudian tubuh mungil yang entah berapa ratus kali sudah aku dekap,
hanya meninggalkan punggungnya dalam tatapanku
hingga tikungan menuju mulut gang menelannya lenyap;

sebuah ojek melintas,
gemuruh suaranya menghentikan tatapan nanarku;

nto,
kamu tahu pasti kan,
waktu berjalan,
lelaki keras dari pulau seberang ini mulai limbung,
kakiku makin lama makin gemetar,
pijakannya goyah,
kamu sering bertanya ‘kan, ‘nto?
kemana sorot mata percaya diri tajam penuh optimisme itu?

tak butuh waktu lama aku menyadari, ‘nto;
semuanya pergi bersama dia,
bersama catatan perjalanan,
bersama segunung rasa bersalah menggumpal di sesaknya dada;

namun,
ketika aku belum mampu untuk berfikir menebus semuanya;
dia datang, pagi-pagi juga waktu itu;
masih cantik dan lembut seperti sediakala,

‘nto,
matahari sekonyong-konyong bersinar hangat di kamar kostku,
dua puluh tangkai mawar mekar serentak,
mewangi semerbak;
‘canon in d’ dari johann pachelbel sontak mengalun dalam alunan flute dan harpa,
tujuh peri cantik menari berdansa di sekelilingku;

aku tak mampu untuk tidak tersenyum dan menyinarkan cahaya mata terterang sepanjang zaman:
‘hi, geulis, apa kabar?’

namun begitulah,
roda pedati was still heading south;
godam nasib menghantam jidatku telak-telak, plak!
aku terkangkang terjengkang,
plafon kamar luluh lantak menimbun jasadku,
aku tak berdaya, ‘nto..

‘nto, lebih baik kau diam saja,
sebatang tawaran rokok mu buang saja jauh-jauh,
segelas alkoholmu just go to hell with you;

dia telah menemukan seseorang, ‘nto;
dia minta aku melupakan segala yang pernah ada,
dia minta aku menganggapnya tak pernah ada,
dia minta aku untuk membiarkannya membangun kehidupannya yang baru;

‘nto,
dia deserves masa depan yang lebih indah dan bercahaya;
dia deserves him,
lelaki tampan, penyabar, penuh perhatian, penuh cinta, katanya;
lelaki yang lebih segala-galanya dariku — katamu, ‘nto;

aku adalah lelaki kalah di tengah hiruknya jakarta,
aku kalah dan salah.

‘nto,
aku berjanji menebus segala salah yang ada,
aku berjanji berharap segala yang terbaik baginya;
aku penuhi permintaannya..
biarlah dia membangun masa depan yang indah bercahaya itu,
tanpa guratan masa lalu dariku,
yang penuh torehan dan cakaran;

namun, ‘nto;
engkau tahu cinta yang bergelayutan itu?
yang hitam menebal disekujur tubuh jiwaku?
bagai kawanan kelelawar merimbuni stalaktit gua?
yang makin hitam menebal beranak-pinak?

namun, ‘nto;
meski dua tahun hampir sudah berlalu;
engkau tahu rindu yang semakin men-sakau itu?
mempurukkanku dalam lorong gelap panjang dingin beku di dasar palung samudera hindia?
aku meringkuk menggigil!
aku rindu!
aku sakau!
dying!

maka,
ketika ‘padi’ mengalunkan kasihku yang tak sampai,

‘D D7
Indah .. terasa indah
G C#dim
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Bm F#m E
Sedapat mungkin terciptakan rasa
G A A7
Keinginan saling memiliki..’

aku telepon dia, nto;
halo, sahutnya, tiga kali;
halo..halo..halooo..
begitu.

aku melambung ke langit tinggi,
menembus langit-langit kamar,
menembus kamar lantai atas,
menembus atap kost-kostan,
tujuah buah antena tivi berhamburan rontok,
aku melayang di antara sekumpulan awan malam…

D Daug
Tetaplah menjadi bintang di langit
G A
Agar cinta kita akan abadi
D Daug
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
G A
Agar menjadi saksi cinta kita
D Daug
berdua..

sayup masih aku dengar suaranya,
‘halo..halo..halooo…’

klik.

sebagai urang minang yang sayang kampung halaman,
saya berfikir keras bagaimana cara mengislamkan ranah minang secara kaffah;
mensyariat islamkan negeri tercinta,

nampaknya kita harus mulai dengan menjilbabkan semua masyarakat,
mulai dari anak sekolah, mahasiswi, pegawai, hingga lonte;
itu sangat penting,
dengan terjilbabnya masyarakat minang,
maka nuansa islami akan terbangun,
terbangun dari lelapnya;

kewajiban berjilbab tidak pandang bulu,
karena bulu susah dipandang,
yang tak berjilbab, tangkap dan cambuk,
kalau perlu dipotong tangan atau tititnya, atau dirajam sampai mati,
mati banget;

galakkan razia jilbab,
mobilisasi pak polisi, banpol, dan hansip,
jilbab lebih penting dari helm,
apalah artinya helm, yang hanya berguna selama di dunia ini,
helm hanyalah sebuah hal duniawi,
tidak jilbab, yang menggiring kita dari dunia hingga kelak di hari pembalapan,
pembalasan maksudnya;

kita jilbabkan juga inyiak-inyiak nenek kita di kampuang yang belum mengenal islam yang kaffah dari tanah arab pujaan;
jangan kasih ampun kalau para inyiak protes,
nyiak, aurat, nyiak..aurat…
aurat bisa bikin urat berontak, nyiak;
inyiak kalau pake selendang doang bisa bikin napsu angku-angku.

sebaiknya jilbabisasi ini dipelopori oleh pak gupernur kita,
sapa sih gupernur sumbar sekarang? terakhir saya tau aswar arnas,
gak ada hubungan sama epa arnas, lho;
masih arun jen kan, gupernur kita?

jika pak gupernur arun jen berjilbab,
tak lama kemudian apak bupati dan apak walikota akan gak enak kalau nggak berjilbab;
demikian juga pak camat, pak wali nagari, pak kepala desa dan segenap pegawai-pegawai dan kerabatnya;

agar lebih meresap,
perlu juga kita usulkan supaya tamu-tamu negara yang datang juga berjilbab,
pak sbw kalau mau ke minang harus berjilbab,
walau pakai helm dan kolor tidak dilarang juga;
tambah ngguanteng toh, jilbab kuning helm pink;

demikian juga mister  usup koala, sebaiknya berjilbab,
nggak pa-pa kumis jojonnya tetap nyantol,
nggak apa-apa, swear, gak papa;

pak amien nais, yang sekarang piara burung perkutut dan jagain warung indomi
juga harus berjilbab kalau mau ikut antrian kupon bbm;
kalo gak bisa kena razia, ayo, pak amien, piye..

kalau perlu gedung-gedung sekolah, gedung-gedung pemerintahan, pertokoan, mal, jembatan, gudang cengkeh, pabrik getah, tiang jemuran, kandang kambing, lubang kakus, dllsb. kita jilbabkan juga;

akan sangat mengharukan sekali kalau kita juga berlapang hati, dada dan celana,
menjilbabkan ayam-ayam piaraan kita, sapi, lembu, dan jawi, serta kuciang dan mancik;

maafkan saya kalau lancang mengusulkan,
daripada kita memakai kondom,
yang jelas-jelas berasal dari barat, dan tidak bersumber dari budaya kita yang bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah,
daripada kita memakai kondom,
lebih baik kita proteksi si patuak burung kesayangan dengan memakai jilbab,
warna, corak, ukuran, aroma, dan rasa bisa disesuaikan;

dan terakhir,
sebagai manifestasi daripada yang mana kita namakan semangat dalam suasana islami pembangunan berkesinambungan,
mari kita pecahkan rekor dunia yang belum pernah pecah,
kita bikin jilbab terbesar di dunia,
dua biji, jangan satu, jangan biji;
lalu rame-rame kita jilbabin gunuang marapi dan singgalang;

last but not least,
otak dan hati nurani kita jangan lupa dijilbab rapat-rapat;
rapat-rapat;
pat;

Older Posts »