Ayah sudah berdiri di sampingku, tersenyum, sedikit saja, dan mengacak-acak
rambutku. “Ayo bangun, sembahyang, dan kita melintasi embun…”
Betul, ayah berjanji semalam, janji lama ayah yang tak pernah sempat
tertepati. Pagi ini kami akan melintasi embun di lutut Gunung Sago, jauh
dari tanah pesisirku yang berkelapa berangin berombak.
Pintu rumah tua ini berderit ketika kami melangkah keluar. Angin gunung
menghujam-tikam dalam sekali ke pusat tulang. Aku mengikuti langkah ayah
menuruni tangga kayu. Seekor kupu-kupu hinggap di bahu ayah. “Ayah seperti
Aladin,” aku tertawa karena ayah membiarkan saja kupu-kupu itu rebah di
bahunya.
“Ayah, embun mana?”
“Semuanya embun”
“Semuanya?”
“Semuanya, dimana-mana…,” ayah merentangkan tangan.
“Embun di atas kepala kita, embun kita pijaki, embun kita hirup, embun
membasah daun-daun, putik-putik, bunga-bunga, rumput, tanah. Embun
membaluri
kita…”
Kami berbelok ke kiri, melangkah di atas rumput-rumput basah. Semak dan
bunga-bunga liar, basah di mana-mana. Di sebelah kiri kami adalah rumah
adat tua besar bagonjong, ada tiga empat lagi rumah bagonjong lain. Di
lembah kecil, di belakang rumah bagonjong besar tua itu, delapan sembilan
rumah berkelompok. Ada dua rumah kecil dengan pohon pisang di sekelilingnya
di tebing tinggi ke arah gelanggang.
“Dulu, hanya rumah kakek dan rumah gadang bagonjong itu. Sisanya adalah
pohon, bunga liar, semak, ilalang. Kemudian yang ada pohon lagi, ilalang
lagi, semak lagi, bunga liar lagi… “
“Dulu, hanya kakek, nenek, ayah, Paman Tabano, paman kecil, bibi, dan Mak
Leman serta kakek, nenek, paman, dan bibi tetangga di sebelah rumah.
Sisanya adalah burung, ayam hutan, monyet, siamang, burung, burung dan
burung dimana-mana…”
Ayah memutar pandangannya ke sekeliling, aku pun ikut memutar kepala.
“Dulu ini hutan”
“Ayah tinggal di hutan?”
“Iya, di hutan”
Kami berjalan terus, menuju gelanggang. Rumpun pimping menyemak tebing
sebelah kanan, tiga rangkiang, lumbung padi, berjejer.
“Dulu, ayah di atas rangkiang, kakek dan Paman Tabano melemparkan karung
padi dan beras ke atas”
“Sampai penuh, ayah?”
“Penuh”
“Lalu bagaimana ayah keluar?”
“Sebelum dua karung terakhir”
Angin gunung tetap dingin. Kami sampai di sisi gelanggang. Pemandangan yang
menggetarkan. Sepercik merah di langit timur, sisanya gelap, satu dua
bintang berpijar mekar. Gelanggang luas, dilingkari tebing di
sekelilingnya.
Seberang tebing gelanggang sana, kiri tebing gelanggang sana, kanan tebing
gelanggang sana, yang kulihat hanya hutan, pepohonan rimbun dalam gelap.
“Dulu, kuda-kuda berpacu di sini, di gelanggang ini. Kuda berpuluh berpeluh
berpacu berdebu. Sekeliling tebing penuh orang bersorak sorai. Bendera
merah, biru, hijau, kuning berkibar. Penjaja kacang goreng, lotere,
berteriak-teriak diantara sorak sorai. Lalu kakek akan membelikan ayah
sebungkus kacang goreng, Paman Tabano sebungkus pula”
“Ayah masih kecil waktu itu?”
“Iya, ayah sebesar kamu, kakek seumuran ayah”
“O ya?” Aku tersenyum geli, lucu membayangkan ayah jadi anak-anak seperti
aku.
“Waktu cepat berlalu”
“Kenapa cepat ayah?
“Karena kita tenggelam di dalamnya”
“Tenggelam?”
Ayah melipat tangan ke dada. Sehelai daun gugur melayang menyentuh rambut
ayah, sebelum berlabuh di rerumputan.
“Kau dengar suara air itu?”
“Iya, kudengar jelas, ayah”
“Adalah sungai itu di tengah rimbun pohon di seberang tebing sana. Berhulu
dari Gunung Sago, lalu menyatu dengan puluhan sungai lainnya, sebelum
bermuara di Selat Malaka”
“Selat Malaka? Jauh sekali…Betulkah, ayah?”
“Apakah ayah pernah berbohong?”
“Tidak, ayah”
Kami duduk di tebing ini beralaskan rumput berembun, memandang lurus ke
gelanggang pacu. Mulut kami senantiasa berasap, beruap di dingin pagi.
“Di sungai itu ayah menunggu”
“Ayah menunggu siapa?”
“Menunggu nenek dan Mak Leman membawa bekal, membawa berita. Nenek dan Mak
Leman menunggu malam sepekat-pekatnya, kelam sehening-heningnya di hutan
ini”
“Ayah kenapa? Nenek dan Mak Leman kenapa?”
“Ayah harus masuk hutan”
“Bukankah ayah dulu tinggal di hutan?”
“Ayah harus mencari hutan yang lebih jauh lagi, lebih rimbun lagi, lebih
dalam lagi, lebih pekat lagi”
“Ayah kenapa, sih?”
Ayah menghela nafas, mendongak ke langit sesaat, untuk kemudian meluruskan
pandangannya lagi.
“Ayah berperang”
“Ayah berperang?”
Aku memutar duduk menghadap ayah. Ayah berperang! Hebat!
“Ayah menyandang meriam, senapan, atau bom atom?”
“Senapan”
“Wow!”
“Ayah berperang dengan siapa di hutan? Dengan Belanda?”
“Bukan”
“Jepang?”
“Bukan”
“Inggris, ya?”
“Bukan juga”
“Melawan Amerika?”
Ayah menggelengkan kepala.
“Sepanyol?”
“Juga bukan”
“Lawan Arab?”
“Bukan Arab”
“Perang dengan Orang Indian?”
“Bukan”
“Ayah berperang dengan Orang Cina, ya?”
“Bukan, bukan dengan Orang Cina”
“Masa Ayah melawan Tarzan?”
“Ya, bukan”
Aku kehabisan koleksi negara di kepala, kehabisan musuh untuk ayah.
“Ayah berperang melawan Tentara Pusat!” Sekelebat asap putih meluncur dari
mulut ayah.
“Tentara Pusat? Mereka dari mana ayah?”
“Dari Pusat”
“Mereka jahat?”
“Mereka memasuki kampung-kampung, mereka mengacak-acak dan merusak isi
rumah, mereka merusak bahkan kadang membakar rumah, mereka membentak-bentak
orang, mereka menyuruh-nyuruh orang, mereka menangkap orang-orang, mereka
memukul orang-orang, mereka membunuh orang-orang, mereka membunuh
teman-teman ayah, mereka membunuh Paman Tabano…”
Ayah terdiam memandang jauh ke seberang sana, ke arah suara sungai. Aku tak
sabar menunggu ayah melanjutkan cerita.
“Jadi Tentara Pusat jahat ayah?”
“Tidak semuanya jahat”
“Kenapa ayah berperang dengan Tentara Pusat?”
“Karena mereka menumpas pemberontak, sementara ayah berjuang melawan
tirani”
“Tirani?”
Ayah hanya diam.
“Ayah pasti menang! Ayah menembak semua Tentara Pusat itu ‘kan? Lalu mereka
mati berdarah-darah, teman-temannya menyerah, mengangkat tangan. Kemudian
ayah akan membentak-bentak mereka dan merantai mereka. Mereka merangkak
memohon-mohon ampun pada ayah, ‘Ampun.ampun…’. Benar ‘kan, ayah?”
Ayah masih memandang jauh ke seberang tebing itu, ke sungai itu. Selintas
bintang jatuh menyilang di langit, sebelum tenggelam di pelukan rimbun
pepohonan.
“Lalu, perang makin keras, Tentara Pusat berpuluh-puluh ribu memasuki
negeri kita. Mereka ada di mana-mana. Hampir semua laki-laki muda seperti
ayah lari ke hutan. Yang tinggal ditangkap, atau harus bekerja sama atau
melayani mereka”
“Ayah lari makin jauh ke dalam hutan, mungkin ayah sudah sampai di daerah
Riau. Berbulan-bulan lamanya ayah di hutan pekat belantara, ayah tidak
kembali ke hutan kampung ini. Sampai hari itu…”
“Sampai hari itu seseorang membawa selembar kertas. Pesan dari nenek: ayah
harus segera pulang, nenek akan menunggu di tepi sungai itu. Setelah sekian
lama di hutan, ayah tersentak-ingat nenek, kakek, bibi, paman kecil. Lalu,
berhari-hari ayah dan dua orang teman ayah merambahi hutan mencari jalan
pulang. Sampai hari itu…”
“Sampai hari itu, di tepi sungai sana, seperti biasa di sepekat-pekatnya
malam, di sehening-heningnya kelam. Namun yang tidak biasa ialah nenek
tidak berdua dengan Mak Leman saja. Ada paman kecil, ada bibi, ada kakek
tetangga dan nenek tetangga, ada teman ayah juga….Lalu nenek memeluk
ayah, nenek menangis, bibi menangis keras. Seisi hutan pastilah
terbangun…”
“Ada apa ayah?”
Tegak bangkit, ayah mengulurkan tangannya padaku untuk ikut bangun berdiri.
Ayah membimbing tanganku dan membawa langkah kami menaiki sebuah tebing
kecil yang lebih tinggi sepinggang. Rumpun pimping dimana-mana, beberapa
pohon bambu, semak-semak, bunga-bunga liar, suara jengkerik di beberapa
sudut.
Aku tersentak, langkahku tertahan, refleks kutarik tangan ayah mundur. Aku
sungguh takut pada orang mati.
“Jangan takut, nak,”ayah berujar pelan. Jarang sekali ayah memanggilku
‘nak’.”Itu kakek. Kakek ada di dalam situ, di bawah timbunan tanah itu”
“Kakek?”
“Iya, waktu itu, nenek dan yang lain menangis di tepi sungai itu. Kemudian,
mereka membawa ayah ke sini, ke tebing ini. Ayah hanya bisa melihat
gundukan tanah berpagar bambu. Kakek pergi menghadap tuhan, tak pernah
pamit. Ayah tak pernah sempat memohon maaf pada kakek”
Suara ayah berubah sedikit parau. Aku mendongak: oh, ayah menangis….Air
mata jelas bergulir di muka ayah.
“Ayah kenapa menangis?”
“Ayah menangis karena ayah sedih, ayah menangis karena ayah tidak pernah
sempat meminta maaf”
Aku belum pernah melihat ayah menangis. Aku pun menangis, aku sedih melihat
ayah menangis.
“Ayah bertemu kakek terakhir kali setahun sebelum kakek meninggal. Ayah
bertemu kakek di tepi sungai itu. Ayah membentak-bentak kakek, ayah
teriakkan sekeras-kerasnya bahwa kakek pengkhianat, bahwa kakek pengecut.
Kemudian ayah menembakkan senapan ayah ke udara di depan kakek. Kakek kaget
dan terlonjak, tapi ayah tidak peduli, ayah kemudian berlari ke hutan, ayah
marah, marah sekali…”
“Kakek tidak pernah setuju ayah berperang, kakek tidak pernah setuju ada
perang. semuanya hanya akan berakhir dengan kesedihan kata kakek. Kakek
tidak mau kehilangan anak-anaknya lagi, cukup Paman Tabano. Kakek tidak mau
kehilangan teman-temannya lagi. Kakek mengajak kami semua berbicara dengan
mereka, dengan Orang Pusat”
“Tapi ayah tidak bisa menerima dan mengerti fikiran kakek. Bagi ayah
perjuangan harus diteruskan. Penindasan harus dibalas. Darah Paman Tabano
tidak akan pernah tertumpah sia-sia. Jika kita terlalu lunak dan pengalah
mereka akan makin sewenang-wenang. Lalu ayah membentak dan menghina
kakek,di tepi sungai itu”
Ayah mengusap airmata di pipinya.
Ayah mengusap airmata di pipiku.
“Ayah tidak boleh memarahi kakek”
“Iya, tidak boleh”
“Ayah berdosa pada kakek”
“Iya, ayah berdosa”
“Ayah harus minta maaf pada kakek”
“Tidak bisa lagi”
“Minta tolong tuhan menyampaikannya, ayah”
“Iya”
Ayah tersenyum dan membelai kepalaku.
“Tapi akhirnya ayah menang perang “kan?”
“Kakek meninggalkan pesan buat ayah lewat nenek sebelum beliau gugur. Bahwa
darah harus berhenti ditumpahkan, bahwa perusakan rumah dan kampung-kampung
harus dihentikan, bahwa penyiksaan orang-orang harus dihentikan, bahwa
penghinaaan perempuan kita harus dihentikan, bahwa anak-anak harus sekolah
lagi. bahwa kita harus berhenti berperang, bahwa mereka terlalu besar dan
kejam untuk dilawan. Namun apa? Kakek gugur juga di tangan mereka! Tentara
Pusat itu menembak kakek! Ayah geram sekali!”
“Ayah tidak menunggu pagi, waktu itu. Ayah langsung memanggul senapan ayah,
setengah berlari tergesa”
“Ayah pergi kemana?”
“Ayah akan mendatangi markas Tentara Pusat di kampung ini. Ayah akan
mendatangi mereka. Ayah hapal betul liku-liku kampung ini. Dan tanpa
Tentara Pusat sadari, ayah sudah berada di samping markas mereka. Beberapa
orang Tentara Pusat yang mengantuk-ngantuk, kaget dan bingung celingukan.
Ayah tidak menunggu sedetik pun, segera mengangkat senapan ayah”
“Ayah tembak mereka semua ‘kan? Semuanya mati, Ayah? Orang-orang yang
membunuh kakek dan Paman Tabano itu mati berdarah-darah semuanya ‘kan? Ayah
menang!”
“Ayah angkat senapan ayah ketika mereka masih mengantuk setengah tidur,
kaget, dan kebingungan. Mereka inilah gerombolan yang membunuh kakek, yang
membunuh Paman Tabano, yang membunuh teman-teman ayah, yang merusak
rumah-rumah di kampung sini, yang menghina warga kampung di sini. Tak ada
lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek…”
“Pasti musuh ayah satu markas mati semua ! Ayah hebat!”
“Tak ada lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek kecuali ayah mengangkat
senjata ayah, dan menyerahkannya pada Tentara Pusat yang kebingungan itu.
Tak ada lagi yang bisa ayah lakukan untuk kakek. Ayah menyerah. Kakek
mungkin benar, mereka memang terlalu besar dan kejam untuk dilawan. Kita
terpaksa bicara dengan mereka, meski berarti kita kalah”
Seekor elang melengking dan melayang di atas kepala kami. Pimping-pimping
bergoyang, bambu-bambu bergetar. Pagi dingin dalam embun. Ayah memeluk aku
di depan gundukan tanah ini.
“Waktu cepat berlalu,” ayah menggumam.
“Karena kita tenggelam ‘kan ayah?”
*****
Aku masih menangis, termangu di depan gundukan tanah ini, di tebing ini.
Nyanyian Al Quran terakhir, penutup Subuh dari surau, berhenti mengalun.
Ayah benar, waktu cepat berlalu, karena kita tenggelam di dalamnya. Dua
puluh tahun yang lalu, baru kemarin rasanya ayah memeluk aku di sini,
memandangi makam kakek. Dan kemarin aku memeluk jenazah
ayah,membaringkannya di dalam sana, di bawah gundukan tanah ini,
berdampingan dengan kakek.
Selamat jalan ayah, selamat jalan pahlawan.
——————————————-